Arsip untuk Juli, 2008

Monday in Bangkok: BTS, MRT dan Babi

Hari keduaku adalah hari yang dipenuhi momen2 petualangan. Jam setengah delapan aku keluar hotel. Terlambat setengah jam dari rencanaku semula. Sementara training dimulai jam 9. Sempat muncul keinginan naik taxi. Tapi semuanya lenyap setelah aku mendapatkan peta BTS dan MRT yang menutup atap dan menjejak tanah Bangkok. Ya, BTS adalah kereta cepat yang melaju di udara. Juga dikenal dengan Sky Train. Sementara MRT kereta cepat yang mengebor bumi, membuat pondasi bagi jalanan Bangkok.

BTS yang kutumpangi mengantarku dari Phrom Phong (1 km dari hotel) ke Sukhumvit. Seperti biasanya aku jadi orang kampung. Bertanya kepada loket penukaran koin lalu terjadi transaksi. Kukira aku akan mendapat tiket tapi malah uang koin dengan nilai sama dengan uang kertas yang kuberikan. Lalu aku dituntun petugas keamanan ke sebuah mesin mirip ATM. Aku memilih no. 1 karena Sukhumvit adalah next station nya Phrom Phong. Mesin itu memintaku memasukkan THB 15*. Lalu mesin itu mengeluarkan tiket yang mirip dengan kartu nama. Langkahku membawaku ke pintu masuk ruang tunggu BTS. Kukira prosesnya sama dengan Busway nya Jakarta, tapi ternyata mesin yang digunakan untuk lewat mengeluarkan kembali tiket yang telah kumasukkan. Lalu aku masuk ke BTS yang penuh sesak. Tak apa, hanya satu stasiun. Setiba di Sukhumvit aku kembali dihadang oleh pintu bermesin. Ternyata tiket yang masih ada harus dimasukkan kembali untuk keluar stasiun. Kulirik animasi dilayar mesin itu yang menggambarkan orang mengangguk-anggukkan kepala serta tulisan “Thank you”. Sungguh manusiawi. Skor sementara BTS 2 – Busway 0.

Aku turun kebawah untuk menumpang MRT. Tujuanku adalah Phahon Yothin. Aku kira proses pembelian tiket akan sama dengan BTS. Ternyata berbeda. Tiket diberikan langsung oleh petugas dalam bentuk koin warna hitam. Untuk melewati pintu bermesin juga berbeda. Koin hitam cukup disentuhkan dengan area yang ditentukan di permukaan mesin. Tapi ujung dari proses tetap sama, koin harus dimasukkan ke dalam pintu bermesin jika ingin keluar. Aku naik ke atas untuk menuju jalan raya. Sebelum sampai, aku bertanya kepada petugas keamanan. Untuk menuju lokasi training ternyata aku harus menumpang MRT dan BTS lagi. Apa boleh buat, aku belum tahu jalan. MRT membawaku ke Mo Chit, next station nya Phahon Yothin. Di Mo Chit aku melanjutkan perjalanan dengan BTS menuju Ari, stasiun terdekat dengan tempat training.

Yah, sedikit terlambat tapi training belum dimulai. Seperti pada umumnya, ada sesi break sekitar jam 10. Aku mengambil secangkir kopi dan sepotong kue. Dari luar tampak seperti roti yang biasanya disajikan di Indonesia. Baru satu gigitan roti, aku menemukan isinya yang berwarna merah. Kuambil sedikit dengan tangan lalu menimbang-nimbang. Seperti daging. Lalu aku teringat pesan teman kantor yang juga pernah training di Thailand. 95% daging di Thailand adalah pork (babi). Aku ingin memastikannya. Kutanya sebelahku. Patena, orang asli Thailand memastikan bahwa itu pork ham. Ucapan teman kantor ternyata 100% benar. Sesi istirahat siang aku membulatkan tekad untuk mencari KFC dimanapun berada. Aku mendapat petunjuk dari pejalan kaki yang kutanyai. Aku harus menumpang BTS ke tiga stasiun berikutnya ke Siam Square. THB 50 ongkos bolak balik yang diperlukan untuk 2 potong ayam goreng dan kentang.

Begitu susahnya aku mencari yang halal di negeri orang. Di negeri sendiri …

Keterangan:

* 1 THB +/ Rp. 300

Tinggalkan sebuah Komentar

Minggu: Antara Jakarta dan Thailand

Aku bangun jam 5 pagi dengan mata yang masih mengantuk. Maklum sampai jam 3 malam aku menyiapkan segala keperluan. Sesuai rencana aku akan menumpang taxi jam 7. Ternyata meleset setengah jam. Tapi masih cukup mengejar keberangkatanku, jam 10. Karena minimal satu setengah jam sebelum keberangkatan pesawat luar negeri penumpang harus tiba di bandara. Waktu ke Batam dulu seingatku minimal 1 jam sebelum keberangkatan penumpang harus di bandara. Ternyata penumpang dengan tujuan luar negeri harus mengurus dokumen2 imigrasi.

Jam 8.30 aku sampai di bandara. Kiki dan Jahi yang mengantarku dengan terpaksa harus pulang lebih awal karena yang diizinkan masuk bandara hanya penumpang pesawat. Aku menuju loket Air Asia. Setelah antri sekian lama, kusodorkan bukti pembelian tiket Air Asia tujuan Jakarta-Bangkok. Lalu barang2 ku dibagasikan. Karena membawa 2 tas, aku kena additional fee Rp. 15.000. Bukan karena beratnya yang melebihi, tapi karena jumlah tas nya. Aku juga membayar air tax Rp. 100.000. Aku menuju petugas imigrasi. Ternyata harus membayar Fiskal dulu di bank. Aku memutar balik mencari bank yang membuka layanan di dalam bandara. Kutemukan Bank UOB Buana yang masih 1 gedung dengan terminal ku, 2D. Setelah membayar Rp. 1.000.000 aku kembali ke petugas imigrasi. Kemudian aku mengisi kartu kedatangan dan keberangkatan. Melewati 1 petugas lagi untuk mendapatkan cap imigrasi. Lalu menuju Gate D4 tempat pesawatku parkir. Di tengah jalan aku menemukan toko buku yang menjual peta Bangkok. Rp. 88.0000 pun melayang. Tak apa, kemarin aku mencari di Gramedia tapi nihil. Jam 9.45 aku masuk pesawat. Sedikit emosional seperti biasanya. Ditambah begitu perhatiannya keluargaku mengirim sms Titi DJ*.

Tidak seperti Mandala Air, di dalam pesawat aku bebas memilih tempat duduk. Yah, kupilih di samping yang bukan pasangan biar ga risih. Setelah take-off beberapa pramugari menjual makanan mirip orang jualan gorengan & nasi uduk pagi2. Itulah mengapa tiket Air Asia murah, tanpa makanan dan minuman. Sekalian menukar uang bath yang belum kugunakan kubeli air mineral dan kitkat. Tentu saja harga pesawat, semuanya THB 70**.

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. Aku landing di Bandara Internasional Suvarnabhumi Bangkok jam 13:15. Kebetulan waktu Bangkok sama dengan waktu Jakarta. Aku membeli kartu prabayar seharga THB 199. Ku sms Jakarta dan Pemalang tempat adik dan bapak ku berada. Berhasil! Tak lama adikku pun menjawab. Sungguh hebat teknologi ini. Aku langsung pesan taxi untuk mengantarku ke hotel di Sukhumvit Soi 22. Grand Mercure Park Avenue. THB 250 ongkos yang diperlukan ke hotel belum termasuk THB 65 untuk tol. Sampai di hotel, aku harus menitipkan THB 3000 untuk jaminan bila aku menggunakan jasa di luar standar pelayanan hotel. Sebenarnya bisa saja tak menitipkan uang kalo punya credit card. Sungguh mahal untuk sebuah jaminan membuatku berfikir ulang, moda transportasi apa yang murah untuk ke tempat training. Setelah masuk kamar aku memberi room service THB 20. Semula aku tak akan memberinya apa-apa mengingat uangku yang sudah terkuras untuk jaminan yang tidak masuk akal. Tapi karena telah mengangkat dua tas ku sambil menunggu negosiasi THB 3000 yang gagal serta menunjukkan ku arah barat kuikhlaskan saja tips itu kepada Samak, nama room service itu.

Keterangan:

* Titi DJ = hati-hati di jalan

** 1 THB +/- Rp. 300

Tinggalkan sebuah Komentar