Arsip untuk April, 2009

The Secret of Dhuha

Bahwa rezeki itu datangnya dari Allah, aku seratus prosen haqqul yaqin. Tapi shortcut dengan melakukan amalan ini dan amalan itu, aku masih fifty-fifty.

Tentang shortcut ini aku pernah dengar dari ceramah Ust. Yusuf Mansur (YM). Katanya, hadits Nabi SAW, siapa yang sholat dhuha empat rakaat, Allah akan antarkan rizkimu.

Aku jadi berfikir, semudah itukah menggapai rizki? Bagaimana jika di-head-to-head-kan dengan ceramahnya Aa Gym bahwa rizki tidak datang dengan sendirinya, melainkan kita yang harus menjemputnya? Lebih masuk akal mana?

Aku merasakan misteri dhuha itu hari ini. Allah memberikan rizki padaku dari jalan yang tak disangka-sangka. Aku menganggapnya misteri karena di satu sisi aku masih belum yakin dengan yang disampaikan YM. Setidaknya aku belum pernah dengar dari ustadz atau kyai lain tentang hadits itu. Belum juga tahu, sahih-dhaif nya hadits itu. Apalagi belum tahu makna yang tersingkap dari hadits yang terkesan ‘polos dan apa adanya’ itu.

Tinggalkan sebuah Komentar

David Hartanto, Sang Pejuang yang Dikhianati

Mengikuti berita meninggalnya salah satu calon ilmuwan Indonesia, David Hartanto, membuat hatiku perih. Lebih2 lagi menyimak komentar diplomat2 kita yang seakan tunduk pada Singapura. Ada apa ini. Pejuang yang mewakili Indonesia di kancah Olimpiade Matematika direlakan begitu saja oleh negara yang dibelanya.

Ada apa ini. Atas nama penghormatan terhadap hukum Singapura, pemerintah kita lepas tangan begitu saja terhadap warganya. Untuk urusan mahasiswa yang sedang menuntut ilmu, untuk urusan orang yang sedang berjuang memajukan bangsanya lewat pendidikan, untuk urusan orang yang cerdas, pendiam, negara tak mau tau. Ini bukan TKI atau TKW bung SBY. Ini rakyatmu. Dia yang akan mewarisi perjuanganmu kelak ketika engkau tak lagi menjabat, mungkin ketika engkau tak lagi menyandang hayat.

Betul2 terlalu. Negara ompong giginya di depan cukong2 Singapura. Seakan mereka-mereka itu menguasai 17 ribu pulau kita. Seakan jika tanpa belas kasihan mereka kita tak kan bisa hidup. Seakan karena merekalah kita merdeka. Kalau begini caranya kita adalah budak. Budak Singapura.

Budak itu halal darahnya diminum. Budak itu dengan sukarela menyerahkan nyawanya. Kalaupun tuannya sedikit kasihan, paling banter budak itu harus duduk lebih rendah dari tuannya. Harus makan makanan sisa tuannya.

Ah, David. Seandainya aku SBY. Aku takkan membiarkanmu mati sia-sia. Aku tak hanya menunggu Singapura menyelesaikan urusan orang asing. Aku akan turun tangan sendiri. Bila perlu akan kuboikot negeri itu.

Ah, David. Sayang sekali aku bukan SBY. Aku hanya bisa tertawa orang2 mengelu-elukan kemenangannya.

Pesan moral: Jangan sekolah di Singapura! Itu upaya maksimal yang bisa kita lakukan. Kecuali dan hanya kecuali SBY berani membela warganya!

Tinggalkan sebuah Komentar

Evaluasi Kerja

Hari ini aku memakai Google Calendar untuk mencatat apa2 yang kukerjakan di kantor. Lumayan, setidaknya ini bisa dipakai juga buat timesheet.

Perlunya mencatat log pekerjaan ini terkait dengan manajemen waktu. Ke depan hal ini juga bisa dipakai untuk melatih disiplin.

Aku berprinsip mengerjakan hal yang mudah dahulu sebelum memasuki hutan belantara pekerjaan sulit. Setidak-tidaknya ada achievement meski itu kecil daripada yang mudah pun tak selesai apalagi yang susah.

Tips: terkadang aku diserahi tugas lebih dari 1 (multi-tasking). Karakteristik masing2 tugas itu macam2. Ada yang mudah, ada yang cukup butuh konsentrasi, ada pula yang susah setengah mati (belum pernah kujumpai). Prioritasku adalah yang mudah dahulu, lalu yang butuh konsentrasi, terakhir yang amat sangat susah.

Tinggalkan sebuah Komentar