Setelah Al-Walid memecatnya sebagai Gubernur Hijaz, Umar bin Abdul Aziz berubah menjadi pribadi yang wara’ (sederhana). Ia tidak lagi berfoya-foya, memakai minyak wangi berlebihan, atau memakai pakaian yang panjangnya sampai menyentuh tanah. Ia merasa perlu untuk mendekat kepada Khalifah Al-Walid untuk mendakwahkan kebenaran dalam kepemimpinan khalifah. Dirinya merasa mampu melakukan itu semua. Terlebih setelah ia melepaskan diri dari hingar-bingar kemewahan. Tetapai sang Khalifah tak begitu mempedulikan seruan Umar bin Abdul Aziz.
Hingga suatu ketika datang berita yang menghebohkan. Gubernur Mesir, yang terkenal sangat kejam terhadap rakyatnya, meninggal dunia. Khalifah Al-Walid terpukul oleh kabar ini karena di mata khalifah, Gubernur Mesir dapat menyenangkannya. Aku sendiri miris membaca pidato khalifah pada pemakaman Gubernur Mesir yang bersumpah Demi Allah bahwasanya si Gubernur Mesir ini akan masuk surga. Aku tak habis pikir, belum genap 1 abad hijriah kemungkaran telah merajalela bahkan beberapa jengkal dari bumi lahirnya Islam. Nama Allah dimanipulasi untuk kepentingan pemimpin. Bahkan cap masuk surga dialamatkan buat pemimpin yang bengis.
Tak lama setelah kematian Gubernur Mesir, Khalifah Al-Walid menghembuskan nafas terakhir. Ia kemudian digantikan oleh adiknya, Sulaiman bin Abdul Malik. Pemerintahan Sulaiman tak jauh berbeda dengan kakaknya. Tapi Sulaiman masih mau mendengar nasehat-nasehat Umar bin Abdul Aziz.
(bersambung ke bagian tiga)