Steve P Jobs (bag.1)

Pertama tau Steve Jobs keturunan Syiria ane kaget. Tapi setelah tau dia hasil hubungan pra-nikah ane prihatin. Sebenernya samar2 si antara dia anak ‘haram’ atau bukan. Catet ada tanda petiknya. Soalnya pertama kali tau riwayat Steve dari pidato kelulusan Stanford. Terus googlimg ga sengaja nemu fakta soal Steve. Di situ ada fakta lain misal agama Steve Buddha. Sempat kepikiran itu guyonan thok. Sampe ane baca buku karangan Walter Isaacson ane baru nyadar Steve Jobs memang beda.
Sedari awal buku itu menunjukkan keistimewaan Steve. Misalnya Steve udah dikasitau kalo dia anak angkat. Ada lagi waktu dia punya teori cara kerja sound yang ternyata beda sama ayah angkatnya. Di kemudian hari teori Steve yang bener. Ini membuat dirinya merasa spesial. Lalu di masa mudanya Steve punya menjalani hidup kontra budaya. Ia tidak pergi ke gereja karena pendeta tak bisa menjawab pertanyaannya yang liar. Ia mengisap ganja, kumpul kebo. Ia pergi ke kuil dst. Singkat kata ia ingin menunjukkan dirinya berbeda dengan melawan arus budaya masa itu.
Kemudia ia berkenalan dengan Steve Wozniak yang adalah putra dari ahli elektronik. Berbeda dengan ayah Jobs yang belajar otodidak ayah Woz mendapatkan pendidikan universitas. Woz kecil sudah diperkenalkan dengan elektronika.

Kita ini bangsa kuli dan kuli di antara bangsa-bangsa

Mungkin kawan ada yang pernah dengar kalimat yang ane tulis di judul tulisan ini. Tidak salah lagi kalimat ini berasal dari Bung Karno. Kini terasa betul makna kalimat itu. Ane sendiri lebih nyaman jadi kuli daripada jadi pengusaha. Padahal BK sudah pidato mengajak supaya seluruh rakyat Indonesia supaya berekonomi berdikari atawa berditi di atas kaki sendiri. Tapi dasar ane nya yang bebal. Dikasitau tetp ane ngeyel. Bagi ane hidup adalah perhitungan matematis yang realistis. Ane menolak tesis mimpi. Ane lebih seneng ikut mainstream, jadi klas pekerja kaum proletarian.
Tapi ane masih punya idealisme yaitu ane ogah jari PNS. Ane ogah pake premium. Ane ga suka trend fashion. Ane ga suka ngutang.
Begini saja tulisan ini ane akhiri.

Sekolah

Barusan baca artikel di Kompas soal perlu tidak perlunya sekolah. Buatku bukan sekolah yang perlu, tapi pendidikan lebih perlu. Penting. Kita tidak menjadi manusia yang berkualitas tanpa adanya pendidikan. Yang jadi soal, apakah pendidikan harus dijalani lewat sekolah? Bukankah ada pendidikan alam, pendidikan kehidupan. dst. dst.

Buatku tidak penting lewat sekolah atau bukan pendidikan diajarkan. Tapi yang hakiki, pendidikan mesti diajarkan untuk meciptakan pribadi yang berkualitas. Pribadi yang berkualitas selanjutnya akan menciptakan masyarakat yang beradab di tengah-tengah dunia.

Aku menawarkan jalan tengah. Bagaimana kalau setiap kita menjadi pendidik sekaligus menjadi anak didik di tengah-tengah masyarakat. Aku tahu ini bukan perkara mudah. Tapi dengan kesadaran penuh bahwa kita adalah pendidik sekaligus anak didik kehidupan seharusnya akan menjadikan kita lebih aware terhadap lingkungan.

Pada gilirannya masing-masing dari kita akan mendapat pendidikan sekolah dan pendidikan masyarakat. Jadi kita tidak hanya mendapat pelajaran-pelajaran di sekolah, melainkan kita dapat mengambil hikmah dari kejadian yang kita alami lewat interaksi dengan lingkungan.

Kunjungan Blog

Wow. Itu kata pertama yang terpikir olehku melihat statistik blog ini. Dua hari terakhir ada pengunjung yang nyasar kemari. Padahal tidak ada posting di hari-hari itu.

Menurutku sih logikanya blog ini baru diakses oleh pengunjung kalo aku posting sesuatu. Kecuali kalo pengunjung yang nyasar ke blog ini. Tapi aku sangsi kalo pengunjung itu orang yang sama yang sengaja mem-bookmark blog ku lalu mengunjunginya dari waktu ke waktu.

Atau kemungkinan lain, mungkinkah statistik itu salah? Mungkin saja dalam dua hari ini aku mengakses dari komputer lain. Tapi setauku, aku hanya mengakses internet di dua komputer. Dan setauku juga, CMIIW wordpress tidak akan mencatat kunjungan dari komputer yang sama dalam 1 hari.

Poin nya adalah jangan mengharapkan blog kita dikunjungi kalo kita jarang posting. Mengutip tips Pak BR, posting secara teratur (daily) akan meningkatkan kunjungan ke blog.

Jangan Cepat Berpuas Diri

Aku mengerjakan sebuah teka-teki. Teka-teki ini minta ampun sulitnya. Biasanya yang kukerjakan teka-teki yang remeh temeh.

Yang membuat persoalan jadi tambah runyam aku harus mengerjakannya dengan cepat.

Terkadang kita terbiasa dengan hal-hal yang serba instan. Ketika ada sesuatu yang sedikit berbeda kita jadi panik. Padahal kalau dipikir ulang hal yang tampak sulit bisa dipilah-pilah. Kita selesaikan satu-persatu. Mulai dari yang mudah ke yang sulit.
Hidup ini tidak berjalan dengan hukum instan. Sesuatu yang kita pikirkan tidak akan bisa kita dapatkan dalam kenyataan tanpa ada perjuangan.

Sementara waktu adalah matrik yang membedakan orang yang berkualitas dengan yang bukan. Bagi orang biasa sepertiku pasti akan membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk mengerjakan teka-teki itu. Membuatku ingat pesan orang-orang, “Jangan cepat berpuas diri”.

Bangun Kesiangan

Hari yang membosankan. Kuhabiskan pagiku dengan terlambat bangun. Ini membuat efek domino. Waktu relaksasiku menerjang waktu getting ready to work. Dengan sendirinya aku akan datang terlambat.

Memang menyebalkan kalau aku harus bangun terlambat. Aku sudah mengubah kebiasaanku tidur pagi setelah bangun dengan relaksasi. Menikmati pagi dengan pemandangan alam. Dengan bangun terlambat semua komitmen tetap ada tapi seperti diburu oleh waktu.

Mungkin inilah ujian pertamaku. Di hari kedua aku ingin membiasakan menulis tentang sesuatu. Betapa mahal arti sebuab komitmen. Ini bukan tentang memaksakan sesuatu. Tapi melakukan sesuatu dengan kesadaran bahwa yang kita lakukan baik dan perlu dibiasakan setiap hari.

Jika aku menulis paragraf-paragraf ini tak beraturan, itu karena aku tak menikmatinya. Tak ada ide bagus untuk kubagikan. Hanya letupan-letupan yang tiada arti.

Dan jika aku sampai mempublish tulisan ini di blog ku, maka akan menjadi prasasti bahwa bangun terlambat tidak baik untuk seorang blogger.

Jejaring Sosial

Aku selalu teringat pidato Steve Jobs tentang ‘melakukan hal yang benar-benar penting’. Hari ini aku menonton film The Social Networking. Film yang terinspirasi dari kesuksesan situs jejaring sosial Facebook.

Oya, aku jadi teringat belum membuka akun Facebook ku selama dua atau tiga bulan. Juga Twitter. Selama ini aku membuka kedua situs itu hanya ingin tahu status teman-temanku. Terkadang aku mengomentarinya. Tapi sangat jarang aku menulis statusku.

Kata Mas Nu’man, praktisi media online hidup sekarang kurang lengkap tanpa Facebook dan Twitter. Kurang lebih seperti itu maksudnya. Memang benar. Tapi buatku yang orang biasa, ada atau tidak ada Facebook dan Twitter sama saja. Malah dengan konidisi saat ini membuatku makin fokus dalam bekerja.

Facebook dan Twitter sementara ini belum bisa masuk dalam prioritas kebutuhanku. Kalau hanya untuk hiburan, buatku cukup membaca situs berita online Kompas.com atau membaca postingan di Kaskus. Kalau untuk kepentingan bisnis apalagi, aku masih buta dengan bisnis bahkan yang konvensional sekalipun.