Monday in Bangkok: BTS, MRT dan Babi

Hari keduaku adalah hari yang dipenuhi momen2 petualangan. Jam setengah delapan aku keluar hotel. Terlambat setengah jam dari rencanaku semula. Sementara training dimulai jam 9. Sempat muncul keinginan naik taxi. Tapi semuanya lenyap setelah aku mendapatkan peta BTS dan MRT yang menutup atap dan menjejak tanah Bangkok. Ya, BTS adalah kereta cepat yang melaju di udara. Juga dikenal dengan Sky Train. Sementara MRT kereta cepat yang mengebor bumi, membuat pondasi bagi jalanan Bangkok.

BTS yang kutumpangi mengantarku dari Phrom Phong (1 km dari hotel) ke Sukhumvit. Seperti biasanya aku jadi orang kampung. Bertanya kepada loket penukaran koin lalu terjadi transaksi. Kukira aku akan mendapat tiket tapi malah uang koin dengan nilai sama dengan uang kertas yang kuberikan. Lalu aku dituntun petugas keamanan ke sebuah mesin mirip ATM. Aku memilih no. 1 karena Sukhumvit adalah next station nya Phrom Phong. Mesin itu memintaku memasukkan THB 15*. Lalu mesin itu mengeluarkan tiket yang mirip dengan kartu nama. Langkahku membawaku ke pintu masuk ruang tunggu BTS. Kukira prosesnya sama dengan Busway nya Jakarta, tapi ternyata mesin yang digunakan untuk lewat mengeluarkan kembali tiket yang telah kumasukkan. Lalu aku masuk ke BTS yang penuh sesak. Tak apa, hanya satu stasiun. Setiba di Sukhumvit aku kembali dihadang oleh pintu bermesin. Ternyata tiket yang masih ada harus dimasukkan kembali untuk keluar stasiun. Kulirik animasi dilayar mesin itu yang menggambarkan orang mengangguk-anggukkan kepala serta tulisan “Thank you”. Sungguh manusiawi. Skor sementara BTS 2 – Busway 0.

Aku turun kebawah untuk menumpang MRT. Tujuanku adalah Phahon Yothin. Aku kira proses pembelian tiket akan sama dengan BTS. Ternyata berbeda. Tiket diberikan langsung oleh petugas dalam bentuk koin warna hitam. Untuk melewati pintu bermesin juga berbeda. Koin hitam cukup disentuhkan dengan area yang ditentukan di permukaan mesin. Tapi ujung dari proses tetap sama, koin harus dimasukkan ke dalam pintu bermesin jika ingin keluar. Aku naik ke atas untuk menuju jalan raya. Sebelum sampai, aku bertanya kepada petugas keamanan. Untuk menuju lokasi training ternyata aku harus menumpang MRT dan BTS lagi. Apa boleh buat, aku belum tahu jalan. MRT membawaku ke Mo Chit, next station nya Phahon Yothin. Di Mo Chit aku melanjutkan perjalanan dengan BTS menuju Ari, stasiun terdekat dengan tempat training.

Yah, sedikit terlambat tapi training belum dimulai. Seperti pada umumnya, ada sesi break sekitar jam 10. Aku mengambil secangkir kopi dan sepotong kue. Dari luar tampak seperti roti yang biasanya disajikan di Indonesia. Baru satu gigitan roti, aku menemukan isinya yang berwarna merah. Kuambil sedikit dengan tangan lalu menimbang-nimbang. Seperti daging. Lalu aku teringat pesan teman kantor yang juga pernah training di Thailand. 95% daging di Thailand adalah pork (babi). Aku ingin memastikannya. Kutanya sebelahku. Patena, orang asli Thailand memastikan bahwa itu pork ham. Ucapan teman kantor ternyata 100% benar. Sesi istirahat siang aku membulatkan tekad untuk mencari KFC dimanapun berada. Aku mendapat petunjuk dari pejalan kaki yang kutanyai. Aku harus menumpang BTS ke tiga stasiun berikutnya ke Siam Square. THB 50 ongkos bolak balik yang diperlukan untuk 2 potong ayam goreng dan kentang.

Begitu susahnya aku mencari yang halal di negeri orang. Di negeri sendiri …

Keterangan:

* 1 THB +/ Rp. 300

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: