Wednesday in Bangkok: Masjid dan Nasi

Hari ini aku membulatkan tekad untuk menemukan masjid. Aku rindu dengan sholat berjamaah. Aku rindu dengan gema adzan dan iqomah. Aku rindu dengan apa yang kuacuhkan di negeri sendiri. Selain itu aku mempunyai asumsi. Jika ada masjid maka ada komunitas muslim di sekitarnya. Jika ada komunitas muslim maka akan mudah menemukan restoran muslim dan menemukan nasi di sana. Ya, sesuatu yang belum pernah kumakan selama empat hari terakhir. Padahal bagi orang Jawa, jika belum makan nasi berarti belum makan. Itu artinya aku puasa empat hari.

Empat hari ini aku selalu makan kentang setiap hari. Pagi, aku sarapan di hotel. Tak banyak menu yang bisa kuambil karena hampir semua menu bercampur dengan babi. Kalo tidak roti, telur, coco crunch, pisang atau kombinasi dari itu. Untungnya masih ada jus dan buah-buahan. Siang, seperti biasanya aku makan di sekitar Siam Square. Biasanya McDonald atau KFC. Tapi aku tak menemukan nasi di sana. Kontras dengan fakta bahwa Thailand adalah eksportir beras. Menu paket McDonald atau KFC selalu menyertakan kentang goreng. Malam, kadang aku makan di hotel atau beli KFC. Aku membawa Pop Mie. Sialnya, snack yang kubawa juga berbahan dasar kentang, seperti Citato, Momogi.

Aku sampai di masjid bernama Darul Aman. Letaknya di Jalan Thanon Petchburi, 300 meter dari stasiun BTS Ratchatewi. Aku menyalami satu orang. Kutanya “How are you”, “Kaifa haluk”. Tak ada jawaban. Aku lupa bertanya “Sebadi mai”, bahasa Thai yang berarti apa kabar. Aku mengambil wudlu. Lalu sholat. Setengah jam berselang untuk pertama kalinya aku mendengar adzan dan sholat berjamaah di Thailand. Setelah sholat aku menyempatkan berbincang dengan imam. Ternyata imam sholat maghrib adalah orang yang kusapa di tempat wudlu. Dia tak bisa bahasa Inggris, Melayu, juga Arab. Aku pun bercakap-cakap sesuai dengan yang kupahami dari body language nya. Lalu aku tahu namanya Yusuf. Kupanggil Ustadz Yusuf dia tersenyum saja. Dia bilang, sesuai dengan pemahamanku, yang sholat di sini kebanyakan orang Thailand atau Pattani. Tapi aku yakin dia bukan orang Pattani. Karena kalo orang Pattani dia paham bahasa Melayu sike2*.

Keluar dari masjid aku mencari restoran muslim. Tepat dugaanku. Aku menemukan dua restoran muslim. Kupilih yang sederhana dengan asumsi tidak mahal harga makanannya. Aku memesan nasi goreng kampong dan teh ice manis pake gula. Begitulah ibu yang berjualan mengkonfirmasikan pesananku. Kebetulan ibu itu orang Pattani. Jadi dia bisa bahasa Melayu. Aku dipersilahkan duduk di kursi yang kosong. Kulihat meja depan sepertinya ada orang Melayu. Kuberanikan diri menyalaminya. Lalu aku berkenalan dengannya. Namanya Adel Wahab. Dia bersama sepupunya Thoriq. Aku bertukar kartu nama dengan Adel. Kebetulan Adel juga seorang programmer dengan spesialisasi .Net. Lalu kami pun berbincang. Mereka berasal dari Pattani, daerah yang didiskriminasikan oleh Pemerintah Thailand karena bahasa, suku dan agama yang berbeda dengan orang Thai. Orang Thai juga disebut Siam. Banyak hal yang kami perbincangkan hingga tak terasa sudah jam 20:30. Malam ini aku ditraktir oleh dua orang Pattani. Kata ibu penjual, semua orang muslim sama, saudara. Wajar jika saling memberi makan. Kutanya berapa harga menu pesananku. Ternyata THB 70**. Separuh harga KFC. Lalu aku pun pulang ke hotel berpisah dengan saudara-saudaraku seiman.

Keterangan:

* sike2 = sedikit-sedikit dalam Bahasa Melayu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: