Archive for the ‘Thailand’ Category

Hari-Hari Penuh Ujian

Hari itu Rabu 23 Juli 2008. Bos ku menelfon apakah aku available untuk ikut Training FileNet di Thailand. Kukatakan secara waktu available, tapi secara administratif tidak. Aku belum punya paspor. Lalu telepon pun ditutup tanpa keputusan yang definitif, apakah aku jadi berangkat atau tidak.

Sejujurnya aku tidak berharap banyak. Nothing too lost. Aku pesimis karena waktu yang mepet untuk membuat paspor, 2 hari mulai besok. Aku diminta sekretaris Big Boss merangkap admin, Andari, untuk melengkapi syarat2 pembuatan paspor. KTP sudah di dompetku. Ijazah juga ada di Jakarta. Akte Kelahiran dan Kartu Keluarga ada di kampung halamanku, Pemalang. Adalah mustahil jika mengeposkannya. Tapi aku juga didera keraguan ketika ingin meminta bantuan adikku, Kiki, untuk mengantarkan akte dan KK itu malam ini juga. Alasannya simple, aku malu seandainya batal berangkat ke Thailand. Tapi segala aras-arasan itu kukesampingkan setelah tahu betapa seriusnya Andari mengusahakan pasporku. Kukabarkan kepada Ibu dan Abi bahwa aku butuh Kiki mengantar akte dan KK malam ini juga. Aku masih teringat pesan Ibu. Ibu akan mendukungku untuk yang terbaik bagiku. Malam ini juga Kiki berangkat ke Jakarta.

Esoknya, Kamis, aku berangkat lebih awal dari biasanya. Suatu musibah terjadi. Baru saja aku turun dari bus yang kutumpangi, handphone ku kecopetan. Pikiranku mulai tak tenang. Tapi aku berusaha seperti tak terjadi apa-apa. Sampai kantor aku menyerahkan semua persyaratan. Aku masih beruntung, yang kecopetan bukan dompetku. Ya, dalam dompetku ada KTP, salah satu dokumen yang dibutuhkan untuk pembuatan paspor. Aku diminta datang ke Kantor Imigrasi Cipinang untuk foto paspor dan wawancara. Setiap orang yang membuat paspor harus mengikuti prosedur ini. Kupinjam HP teman kantorku untuk keperluan komunikasi.

Aku tiba di imigrasi sekitar pukul setengah dua. Setelah menunggu setengah jam aku difoto dan diambil sidik jari. Hari itu ada banyak pemohon termasuk satu keluarga lengkap yang membuat paspor. Bahkan anak balita pun ikut dibuatkan paspor. Kontras denganku yang baru membuat paspor di usiaku yang menyentuh seperempat abad. Untuk foto paspor, wanita diizinkan memakai jilbab. Hanya kacamata yang harus ditanggalkan. Dalam berpose boleh senyum tapi gigi tidak boleh terlihat. Setelah sesi pemotretan dilanjutkan dengan pengambilan sidik jari. Sepuluh jariku ditempelkan satu per satu ke scanner. Mungkin scanner khusus sidik jari. Foto dan sidik jari itu kemudian diolah dalam sebuah program komputer.

Aku menunggu untuk sesi wawancara. Aku diminta agen pengurus paspor untuk menunjukkan ijazah asliku ketika aku diwawancara nanti. Besar kemungkinan aku akan ditanya fotokopi ijazahku yang rusak sudah sesuai dengan yang asli. Tentang rusaknya ijazahku adalah karena musibah banjir besar yang melanda Jabodetabek Februari 2007. Saat itu aku tidak berada di Ciputat, tempat kos dimana aku menyimpan ijazah. Aku di Benhil tempat aku menumpang pada seorang sahabatku, Andy. Di sana malah lebih parah. Aku terjebak banjir setinggi tidak kurang dari satu setengah meter. Jika bukan karena mendapat bantuan TNI, aku mungkin akan melewatkan beberapa hari dalam banjir. Kebetulan rumah Andy memang didesain untuk siaga banjir. Bangunannya dua lantai. Lantai kedua tidak kemasukan air sehingga penghuninya cukup naik ke lantai 2 jika ada banjir. Setelah selamat dari kepungan air bah, aku mendapati kosan Ciputat juga kemasukan air meski kurang dari 10 cm. Tapi itu sudah cukup untuk merusak ijazah asliku yang kebetulan kuletakkan di bawah. Boleh jadi itulah pengalaman banjir besar pertamaku selama enam tahun merantau di Jakarta.

Tiba giliranku wawancara. Yang mewawancaraiku wanita berjilbab. Dari logatnya sepertinya ia orang Jawa. Seluruh dokumen persyaratanku diperiksa. Semuanya sepertinya akan berjalan lancar. Sampai ia meneliti KK ku. KK ku beralamat di Pemalang, sedangkan KTP ku Jakarta. Menurutnya, itu janggal. Tapi tidak menurutku. Kukira KK adalah surat keterangan dimana aku dilahirkan oleh orang tuaku, aku mempunyai berapa saudara kandung dsb. Tapi, peraturannya tidak begitu. Untuk membuat KTP dibutuhkan KK. Dan aku tak pernah melewati proses itu dalam pembuatan KTP Jakarta di tempat saudaraku. Aku diminta mengurus KK supaya alamatnya sama dengan KTP, atau sebaliknya KTP agar sesuai dengan alamat KK. Aku tidak menerima penjelasan petugas imigrasi itu. Tapi aku menyerah juga. Ini birokrasi, bung, begitu fikirku. Aku keluar dari ruangan wawancara. Belum apa-apa aku dibombardir pertanyaan bernada tinggi dari agen yang mengurus pasporku. Dikiranya aku akan merusak citra baiknya sebagai “konsultan pengurusan paspor” karena perbedaan KTP dan KK tadi. Hatiku tak terima dengan semua itu. Mereka semua tak menghargai pengorbanan Kiki, yang bersusah payah mengantarkan KK ku dalam satu malam. Mereka semua tidak tahu kalau Kiki harus bolak-balik Pemalang-Klareyan-Pemalang sebelum memastikan mendapat tempat duduk Dewi Sri Jurusan Pemalang-Ciputat. Dia mafia birokrasi, bung, lagi2 alam bawah sadarku mengingatkan.

Tak ada gunanya memperpanjang masalah sementara waktu terus berjalan. Besok adalah hari terakhir dalam seminggu, yang juga hari terakhir peluangku ke Thailand. Aku langsung menghubungi Tanjung Priok tempat dimana aku membuat KTP lewat saudaraku. Tak berhenti di situ, aku juga membutuhkan dana segar yang kini mulai menipis dari dompetku. Lagi-lagi Kiki menyelamatkanku. Dia datang ke Tanjung Priok ke rumah saudaraku tanpa pernah tau persis dimana letaknya. Untuk ukuran sekarang barangkali mudah. Tapi ingat bung, HP ku kecopetan tadi pagi, sementara HP kawanku sudah kukembalikan sepulang dari Kantor Imigrasi. Itu artinya komunikasi nyaris hanya satu arah. Aku juga tidak bisa berlama2 menelpon HP kiki lewat wartel mengingat uangku sudah pas-pasan. Alhamdulillah Kiki sampai juga di Tanjung Priok. HP dan uangnya untuk sementara kupinjam. Kebetulan besok hari gajian sehingga bisa kukembalikan dengan cepat. Malam itu juga aku mengurus KK. Alhamdulillah selesai. Besok sebelum jam 9 KK itu harus sudah ku-fax ke agen pengurusan paspor jika aku masih tetap ingin ke Thailand.

Esoknya, Jumat, aku ke kantor dari Tanjung Priok. Semuanya berjalan lancar. Pasporku jadi sekitar pukul 5. Jadi secara administratif aku sudah bisa ke Thailand. Kebetulan Thailand tidak mensyaratkan visa bagi turis ASEAN. Mulai saat ini aku harus membiasakan diri sebagai turis. Sepanjang hari itu kugunakan untuk mencari informasi tentang Thailand dan Bangkok pada khususnya. Ketika malam tiba, ada lagi hal yang sangat berpotensi menggagalkan kepergianku. IBM Thailand sebagai penyelenggara training belum mengkonfirmasikan keikutsertaanku. Implikasinya banyak. Perusahaanku tentu tak mau buru2 memesan tiket pesawat dan hotel. Harus ada jaminan tertulis dari IBM Indonesia bahwa Okta Ferdiansyah Hadisaputra masuk dalam daftar Training P8 Programming. Konfirmasi itu akhirnya datang sekitar jam 9 malam. Itu pun hanya lewat sms Vivi, IBM Indonesia. Tak ada hari libur untuk besok. Aku harus dapat tiket pesawat dan voucher hotel di kantor. Semuanya diurus oleh Andari.

Sabtu jam 9 aku sampai di kantor dengan harapan semuanya cepat selesai. Sudah ada Andari menunggu dengan membawa anak perempuannya. Selain kami bertiga tak ada karyawan lain masuk hari itu. Andari menghubungi Air Asia untuk memesan tiket pesawat serta memesan voucher hotel Grand Mercure Park Avenue lewat agen perjalanan. Dengan voucher itu, aku cukup menunjukkannya ketika nanti tiba di Thailand. Lagi-lagi ada kendala. Tiket Air Asia tidak dapat dibayar dengan kartu kredit jika pemesanan dilakukan H-1 keberangkatan. Sementara bos dan staf finansial yang bisa memberi cash tidak berada di kantor. Aku harus merogoh tabunganku untuk menebusnya sementara. 2,2 juta untuk tiket pesawat Jakarta-Bangkok PP. Gantinya akan ditransfer hari Senin. Beruntung uang gajianku sudah turun kemarin. Aku pun menyanggupi. Adapun voucher hotel, akan diserahkan agen perjalanan di tempat penjualan tiket Air Asia, Jl. Panglima Polim dekat Blok M. Tempat itu dipilih karena dekat dengan kantor agen perjalanan. Voucher hotel dan tiket pesawat akhirnya, benar-benar akhirnya, di tanganku. Kecuali Allah, tak ada yang bisa menghalangiku lagi kali ini.

Iklan

Wednesday in Bangkok: Masjid dan Nasi

Hari ini aku membulatkan tekad untuk menemukan masjid. Aku rindu dengan sholat berjamaah. Aku rindu dengan gema adzan dan iqomah. Aku rindu dengan apa yang kuacuhkan di negeri sendiri. Selain itu aku mempunyai asumsi. Jika ada masjid maka ada komunitas muslim di sekitarnya. Jika ada komunitas muslim maka akan mudah menemukan restoran muslim dan menemukan nasi di sana. Ya, sesuatu yang belum pernah kumakan selama empat hari terakhir. Padahal bagi orang Jawa, jika belum makan nasi berarti belum makan. Itu artinya aku puasa empat hari.

Empat hari ini aku selalu makan kentang setiap hari. Pagi, aku sarapan di hotel. Tak banyak menu yang bisa kuambil karena hampir semua menu bercampur dengan babi. Kalo tidak roti, telur, coco crunch, pisang atau kombinasi dari itu. Untungnya masih ada jus dan buah-buahan. Siang, seperti biasanya aku makan di sekitar Siam Square. Biasanya McDonald atau KFC. Tapi aku tak menemukan nasi di sana. Kontras dengan fakta bahwa Thailand adalah eksportir beras. Menu paket McDonald atau KFC selalu menyertakan kentang goreng. Malam, kadang aku makan di hotel atau beli KFC. Aku membawa Pop Mie. Sialnya, snack yang kubawa juga berbahan dasar kentang, seperti Citato, Momogi.

Aku sampai di masjid bernama Darul Aman. Letaknya di Jalan Thanon Petchburi, 300 meter dari stasiun BTS Ratchatewi. Aku menyalami satu orang. Kutanya “How are you”, “Kaifa haluk”. Tak ada jawaban. Aku lupa bertanya “Sebadi mai”, bahasa Thai yang berarti apa kabar. Aku mengambil wudlu. Lalu sholat. Setengah jam berselang untuk pertama kalinya aku mendengar adzan dan sholat berjamaah di Thailand. Setelah sholat aku menyempatkan berbincang dengan imam. Ternyata imam sholat maghrib adalah orang yang kusapa di tempat wudlu. Dia tak bisa bahasa Inggris, Melayu, juga Arab. Aku pun bercakap-cakap sesuai dengan yang kupahami dari body language nya. Lalu aku tahu namanya Yusuf. Kupanggil Ustadz Yusuf dia tersenyum saja. Dia bilang, sesuai dengan pemahamanku, yang sholat di sini kebanyakan orang Thailand atau Pattani. Tapi aku yakin dia bukan orang Pattani. Karena kalo orang Pattani dia paham bahasa Melayu sike2*.

Keluar dari masjid aku mencari restoran muslim. Tepat dugaanku. Aku menemukan dua restoran muslim. Kupilih yang sederhana dengan asumsi tidak mahal harga makanannya. Aku memesan nasi goreng kampong dan teh ice manis pake gula. Begitulah ibu yang berjualan mengkonfirmasikan pesananku. Kebetulan ibu itu orang Pattani. Jadi dia bisa bahasa Melayu. Aku dipersilahkan duduk di kursi yang kosong. Kulihat meja depan sepertinya ada orang Melayu. Kuberanikan diri menyalaminya. Lalu aku berkenalan dengannya. Namanya Adel Wahab. Dia bersama sepupunya Thoriq. Aku bertukar kartu nama dengan Adel. Kebetulan Adel juga seorang programmer dengan spesialisasi .Net. Lalu kami pun berbincang. Mereka berasal dari Pattani, daerah yang didiskriminasikan oleh Pemerintah Thailand karena bahasa, suku dan agama yang berbeda dengan orang Thai. Orang Thai juga disebut Siam. Banyak hal yang kami perbincangkan hingga tak terasa sudah jam 20:30. Malam ini aku ditraktir oleh dua orang Pattani. Kata ibu penjual, semua orang muslim sama, saudara. Wajar jika saling memberi makan. Kutanya berapa harga menu pesananku. Ternyata THB 70**. Separuh harga KFC. Lalu aku pun pulang ke hotel berpisah dengan saudara-saudaraku seiman.

Keterangan:

* sike2 = sedikit-sedikit dalam Bahasa Melayu

Monday in Bangkok: BTS, MRT dan Babi

Hari keduaku adalah hari yang dipenuhi momen2 petualangan. Jam setengah delapan aku keluar hotel. Terlambat setengah jam dari rencanaku semula. Sementara training dimulai jam 9. Sempat muncul keinginan naik taxi. Tapi semuanya lenyap setelah aku mendapatkan peta BTS dan MRT yang menutup atap dan menjejak tanah Bangkok. Ya, BTS adalah kereta cepat yang melaju di udara. Juga dikenal dengan Sky Train. Sementara MRT kereta cepat yang mengebor bumi, membuat pondasi bagi jalanan Bangkok.

BTS yang kutumpangi mengantarku dari Phrom Phong (1 km dari hotel) ke Sukhumvit. Seperti biasanya aku jadi orang kampung. Bertanya kepada loket penukaran koin lalu terjadi transaksi. Kukira aku akan mendapat tiket tapi malah uang koin dengan nilai sama dengan uang kertas yang kuberikan. Lalu aku dituntun petugas keamanan ke sebuah mesin mirip ATM. Aku memilih no. 1 karena Sukhumvit adalah next station nya Phrom Phong. Mesin itu memintaku memasukkan THB 15*. Lalu mesin itu mengeluarkan tiket yang mirip dengan kartu nama. Langkahku membawaku ke pintu masuk ruang tunggu BTS. Kukira prosesnya sama dengan Busway nya Jakarta, tapi ternyata mesin yang digunakan untuk lewat mengeluarkan kembali tiket yang telah kumasukkan. Lalu aku masuk ke BTS yang penuh sesak. Tak apa, hanya satu stasiun. Setiba di Sukhumvit aku kembali dihadang oleh pintu bermesin. Ternyata tiket yang masih ada harus dimasukkan kembali untuk keluar stasiun. Kulirik animasi dilayar mesin itu yang menggambarkan orang mengangguk-anggukkan kepala serta tulisan “Thank you”. Sungguh manusiawi. Skor sementara BTS 2 – Busway 0.

Aku turun kebawah untuk menumpang MRT. Tujuanku adalah Phahon Yothin. Aku kira proses pembelian tiket akan sama dengan BTS. Ternyata berbeda. Tiket diberikan langsung oleh petugas dalam bentuk koin warna hitam. Untuk melewati pintu bermesin juga berbeda. Koin hitam cukup disentuhkan dengan area yang ditentukan di permukaan mesin. Tapi ujung dari proses tetap sama, koin harus dimasukkan ke dalam pintu bermesin jika ingin keluar. Aku naik ke atas untuk menuju jalan raya. Sebelum sampai, aku bertanya kepada petugas keamanan. Untuk menuju lokasi training ternyata aku harus menumpang MRT dan BTS lagi. Apa boleh buat, aku belum tahu jalan. MRT membawaku ke Mo Chit, next station nya Phahon Yothin. Di Mo Chit aku melanjutkan perjalanan dengan BTS menuju Ari, stasiun terdekat dengan tempat training.

Yah, sedikit terlambat tapi training belum dimulai. Seperti pada umumnya, ada sesi break sekitar jam 10. Aku mengambil secangkir kopi dan sepotong kue. Dari luar tampak seperti roti yang biasanya disajikan di Indonesia. Baru satu gigitan roti, aku menemukan isinya yang berwarna merah. Kuambil sedikit dengan tangan lalu menimbang-nimbang. Seperti daging. Lalu aku teringat pesan teman kantor yang juga pernah training di Thailand. 95% daging di Thailand adalah pork (babi). Aku ingin memastikannya. Kutanya sebelahku. Patena, orang asli Thailand memastikan bahwa itu pork ham. Ucapan teman kantor ternyata 100% benar. Sesi istirahat siang aku membulatkan tekad untuk mencari KFC dimanapun berada. Aku mendapat petunjuk dari pejalan kaki yang kutanyai. Aku harus menumpang BTS ke tiga stasiun berikutnya ke Siam Square. THB 50 ongkos bolak balik yang diperlukan untuk 2 potong ayam goreng dan kentang.

Begitu susahnya aku mencari yang halal di negeri orang. Di negeri sendiri …

Keterangan:

* 1 THB +/ Rp. 300

Minggu: Antara Jakarta dan Thailand

Aku bangun jam 5 pagi dengan mata yang masih mengantuk. Maklum sampai jam 3 malam aku menyiapkan segala keperluan. Sesuai rencana aku akan menumpang taxi jam 7. Ternyata meleset setengah jam. Tapi masih cukup mengejar keberangkatanku, jam 10. Karena minimal satu setengah jam sebelum keberangkatan pesawat luar negeri penumpang harus tiba di bandara. Waktu ke Batam dulu seingatku minimal 1 jam sebelum keberangkatan penumpang harus di bandara. Ternyata penumpang dengan tujuan luar negeri harus mengurus dokumen2 imigrasi.

Jam 8.30 aku sampai di bandara. Kiki dan Jahi yang mengantarku dengan terpaksa harus pulang lebih awal karena yang diizinkan masuk bandara hanya penumpang pesawat. Aku menuju loket Air Asia. Setelah antri sekian lama, kusodorkan bukti pembelian tiket Air Asia tujuan Jakarta-Bangkok. Lalu barang2 ku dibagasikan. Karena membawa 2 tas, aku kena additional fee Rp. 15.000. Bukan karena beratnya yang melebihi, tapi karena jumlah tas nya. Aku juga membayar air tax Rp. 100.000. Aku menuju petugas imigrasi. Ternyata harus membayar Fiskal dulu di bank. Aku memutar balik mencari bank yang membuka layanan di dalam bandara. Kutemukan Bank UOB Buana yang masih 1 gedung dengan terminal ku, 2D. Setelah membayar Rp. 1.000.000 aku kembali ke petugas imigrasi. Kemudian aku mengisi kartu kedatangan dan keberangkatan. Melewati 1 petugas lagi untuk mendapatkan cap imigrasi. Lalu menuju Gate D4 tempat pesawatku parkir. Di tengah jalan aku menemukan toko buku yang menjual peta Bangkok. Rp. 88.0000 pun melayang. Tak apa, kemarin aku mencari di Gramedia tapi nihil. Jam 9.45 aku masuk pesawat. Sedikit emosional seperti biasanya. Ditambah begitu perhatiannya keluargaku mengirim sms Titi DJ*.

Tidak seperti Mandala Air, di dalam pesawat aku bebas memilih tempat duduk. Yah, kupilih di samping yang bukan pasangan biar ga risih. Setelah take-off beberapa pramugari menjual makanan mirip orang jualan gorengan & nasi uduk pagi2. Itulah mengapa tiket Air Asia murah, tanpa makanan dan minuman. Sekalian menukar uang bath yang belum kugunakan kubeli air mineral dan kitkat. Tentu saja harga pesawat, semuanya THB 70**.

Allahumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa ‘ala ali sayyidina Muhammad. Aku landing di Bandara Internasional Suvarnabhumi Bangkok jam 13:15. Kebetulan waktu Bangkok sama dengan waktu Jakarta. Aku membeli kartu prabayar seharga THB 199. Ku sms Jakarta dan Pemalang tempat adik dan bapak ku berada. Berhasil! Tak lama adikku pun menjawab. Sungguh hebat teknologi ini. Aku langsung pesan taxi untuk mengantarku ke hotel di Sukhumvit Soi 22. Grand Mercure Park Avenue. THB 250 ongkos yang diperlukan ke hotel belum termasuk THB 65 untuk tol. Sampai di hotel, aku harus menitipkan THB 3000 untuk jaminan bila aku menggunakan jasa di luar standar pelayanan hotel. Sebenarnya bisa saja tak menitipkan uang kalo punya credit card. Sungguh mahal untuk sebuah jaminan membuatku berfikir ulang, moda transportasi apa yang murah untuk ke tempat training. Setelah masuk kamar aku memberi room service THB 20. Semula aku tak akan memberinya apa-apa mengingat uangku yang sudah terkuras untuk jaminan yang tidak masuk akal. Tapi karena telah mengangkat dua tas ku sambil menunggu negosiasi THB 3000 yang gagal serta menunjukkan ku arah barat kuikhlaskan saja tips itu kepada Samak, nama room service itu.

Keterangan:

* Titi DJ = hati-hati di jalan

** 1 THB +/- Rp. 300