Gigi Amnesia

Lagu ini sangat bagus. Setidaknya menurutku. Inilah yang terjadi pada kita semua. Diakui atau tidak. Selama ini kita sangat hebat kalau berbicara soal moral. Tapi di saat yang sama kita mereduksi nilai moral itu sendiri dengan melakukan tindakan yang amoral. Selama ini kita fasih mendaras ayat-ayat Tuhan tapi di saat yang sama kita melupakannya, meletakkan di meja saja.

Amnesia. Pagi beribadah. Siang lupa lagi. Sore beribadah. Malam amnesia. Dan seterusnya. Sepertinya itu siklus kehidupan kita. Memang betul ada hadits yang mengatakan bahwa keimanan bertambah dan berkurang. Tapi sekali-kali tidak bisa dijadikan apologi. Bukan pula sebagai pegangan hidup. Hadits itu hanya untuk menggambarkan realitas kehidupan manusia. Dan dengannya kita harus selalu berusaha meningkatkan kualitas hidup kita. Sehingga ketika kita terpuruk, kita harus bangkit dan selanjutnya berusaha tidak terjebak kembali dalam keterpurukan itu.

Task di GMail

task-gmail

Umar bin Abdul Aziz (bagian dua)

Setelah Al-Walid memecatnya sebagai Gubernur Hijaz, Umar bin Abdul Aziz berubah menjadi pribadi yang wara’ (sederhana). Ia tidak lagi berfoya-foya, memakai minyak wangi berlebihan, atau memakai pakaian yang panjangnya sampai menyentuh tanah. Ia merasa perlu untuk mendekat kepada Khalifah Al-Walid untuk mendakwahkan kebenaran dalam kepemimpinan khalifah. Dirinya merasa mampu melakukan itu semua. Terlebih setelah ia melepaskan diri dari hingar-bingar kemewahan. Tetapai sang Khalifah tak begitu mempedulikan seruan Umar bin Abdul Aziz.

Hingga suatu ketika datang berita yang menghebohkan. Gubernur Mesir, yang terkenal sangat kejam terhadap rakyatnya, meninggal dunia. Khalifah Al-Walid terpukul oleh kabar ini karena di mata khalifah, Gubernur Mesir dapat menyenangkannya. Aku sendiri miris membaca pidato khalifah pada pemakaman Gubernur Mesir yang bersumpah Demi Allah bahwasanya si Gubernur Mesir ini akan masuk surga. Aku tak habis pikir, belum genap 1 abad hijriah kemungkaran telah merajalela bahkan beberapa jengkal dari bumi lahirnya Islam. Nama Allah dimanipulasi untuk kepentingan pemimpin. Bahkan cap masuk surga dialamatkan buat pemimpin yang bengis.

Tak lama setelah kematian Gubernur Mesir, Khalifah Al-Walid menghembuskan nafas terakhir. Ia kemudian digantikan oleh adiknya, Sulaiman bin Abdul Malik. Pemerintahan Sulaiman tak jauh berbeda dengan kakaknya. Tapi Sulaiman masih mau mendengar nasehat-nasehat Umar bin Abdul Aziz.

(bersambung ke bagian tiga)

Ketika Anak Semua Bangsa Kubaca

Telah kubacai 400 halaman novel Pramoedya itu. Tinggal 100 halaman lagi.
Isinya masih terkait masalah yang ditinggalkan oleh Bumi Manusia.
Sementara ini tokoh yang berkesan di benakku adalah Khow Ah Soe atau semacam itulah spell nya. Visinya jelas, memperbaiki kehidupan bangsanya. Targetnya jelas, berkampanye pada orang-orang sebangsanya yang tinggal di negri rantau. Pengorbanannya pun tak main2.
Sementara tokoh yang kurang menurutku ada pada sosok Surati. Aksi heroiknya membunuh Plakemboh sepertinya terlalu mengada-ada.
Buatku, tetap Pram adalah pencerita yang baik. Lidahnya mengandung butiran2 sejarah, tak hanya Hindia, tapi dunia. Pendekatannya dalam mencitrakan tokoh2nya relatif membumi.
Oya, tokoh utama si Minke memang belum dewasa benar pemikirannya. Maka benar sekali pengatar Kompas di sampul belakang novel ini. Kalau tidak salah bunyinya begini. “Penyemaian ide”. Memang banyak gagasan tokoh2 yang tertanam dalam fikiran Minke. Ide ini tentu saja sebagai pengantar pada Tetralogi Pulau Buru nya yang ketiga, Jejak Langkah.

Umar bin Abdul Aziz (bagian 1)

Kemarin baru beli buku berjudul Umar bin Abdul Aziz. Ternyata pada masa mudanya dia suka bermewah-mewahan. Diceritakan juga Umar bin Abdul Aziz memakai minyak wangi dengan berlebihan samapai-sampai orang-orang berebut bajunya ketika akan dicuci karena wanginya itu.

Umar masih hidup berlebihan ketika ditunjuk menjadi Gubernur Madinah yang kemudian diperluas wilayah kekuasaannya meliputi seluruh Hijaz. Ia juga menuruti kemauan penguasa dengan menyiksa seorang rakyatnya hingga meninggal. Tapi itupun tak menjamin kelangsungan kekuasaannya. Ia dilengserkan dari kursi Gubernur Hijaz.

Pada masa lengser itulah Umar merenung. Seakan-akan ia menemukan kembali gen Umar bin Khattab yang ia warisi dari ibunya. Ia menyesali kesalahan-kesalahan masa lalu. Hidupnya berubah menjadi zuhud terhadap dunia. Rasa berdosanya telah membunuh seorang rakyatnya hanya karena kekuasaan pun terus menggelayuti pikirannya. Ia bertekad untuk memperbaiki hidupnya. Pun ia ingin berdakwah kepada khalifah Marwan mantan atasannya. Ia ingin khalifah berlaku adil.

(Bersambung ke bagian 2)

I Support Antasari Azhar

Buat yang mau gabung untuk mendukung Antasari azhar, silahkan jadi anggota grup “I Support Antasari Azhar“.

Upaya ini hanya untuk menunjukkan, aku prihatin dengan kasus yang menimpa pak antasari, dan aku tidak setuju dengan segala bentuk konspirasi.

Beda

Hari ini kumulai dengan semangat yang berbeda dari biasanya. Sepertinya kerja itu rileks, ga ada beban. Kukira ini efek psikologis karena banyak pekerjaan kuselesaikan minggu lalu yang membuat pekerjaan sekarang relatif ringan.

Dibutuhkan jenis pekerjaan baru dengan tingkat keunikan tertentu agar otak ini tetap bekerja. Terlalu banyak santai kurasa juga kurang begitu baik. Itu mengapa orang yang pekerjaan sehari-harinya itu-itu saja biasanya otaknya kurang berkembang. Kecuali ia punya pekerjaan sampingan yang menuntut otaknya bekerja terus-menerus.

Pada intinya, dalam bekerja sebaiknya kita membangun sikap optimistis. Itu tips dari kawan saya.

lo harus yakin bahwa lo bisa nyelesein pekerjaan ini.

Dengan begitu otak kita terangsang untuk hasil yang positif. Bahwa kemudian pekerjaan tidak selesai sesuai yang diharapkan, itu persoalan lain lagi.

Tips: Bekerjalah pada perusahaan konsultan. Ini akan merangsang otak anda untuk selalu dinamis. Belajar, belajar dan belajar. Selain uang yang didapat, otak juga terisi. Sebagai bonus, rambut anda barangkali akan cepat putih. 😀